Zona Berita Unik Dunia

Rabu, 12 April 2017

Kisah Nyata Seorang Pria Yang Gagal Naik Haji Karena Rayap

loading...

Kebaikan mesti di sampaikan lewat cara yang baik juga. Kebaikan yang dipasarkan dengan cara yang kurang baik terlebih buruk, akan berakibat fatal, baik untuk pelaku ataupun objek kebaikan. Semestinya dakwah yang bermakna mengkampanyekan kebaikan, ketika di sampaikan dengan serampangan terlebih kekerasan, jadi akibat fatalnya akan menerpa sang dai serta dakwah secara umum, juga penolakan dari objek dakwah. 

Tersebutlah seorang suami yang biasa di panggil Abah. Beliau adalah suami yang baik. Seorang petani yang juga pedagang padi. Beliau punya kebiasaan membeli padi dari yang memiliki sawah di kampungnya, menyelipnya, lalu menjualnya pada orang-orang. Sebab amanahnya dalam berdagang, usahanya maju serta cukup di kenal oleh petani diluar kampungnya. 

Tergolong muslim yang patuh, Abah juga punya niat menjalankan Ibadah Haji di Tanah Suci Makkah al-Mukarromah. Inilah ibadah unggulan yang hanya dapat dikerjakan oleh orang-orang yang mampu, baik materi ataupun non materi berbentuk ilmu, kesehatan dan sebagainya. 

Guna mewujudkan niat mulianya itu, Abah mulai menyisihkan pendapatannya. Saat itu, belum banyak Bank yang menerima penyimpanan uang seperti saat ini. Alhasil, guna menghemat waktu mendatangi Bank, Abah menaruh uangnya dalam satu celengan yang terbuat dari bambu. 

" Dari sebatang bambu, dipotonglah satu ruas, lalu sisi tengahnya di beri lubang untuk memasukkan uang. Memiliki bentuk sama seperti kotak amal yang ada di masjid-masjid, tetapi celengan ini berbentuk bulat. 

Hari demi hari, tabungan Abah makin bertambah. Beliau menghitung setiap uang yang dimasukkan dalam celengannya supaya tahu jumlahnya, serta dapat di ketahui jika ternyata ada orang yang mencuri uang dari celengannya itu. 

Abah merahasiakan apa yang dilakukannya dari seluruh anggota keluarganya, termasuk juga dari sang istri. Sebab itulah, sang istri terkadang ‘ngedumel’ sebab jatah hariannya berkurang. Terlebih secara jelas terlihat kalau usaha suaminya tengah menanjak. Hingga timbullah pertanyaan, “Digunakan untuk apa uang hasil berdagang? ” 

Qadarullah, setelah berbilang tahun, dalam hitungan Abah tabungannya telah cukup untuk disetorkan ke Bank. Lalu, beliau berniat membukanya. Tujuannya, selepas di buka, Abah akan menunjukkannya pada sang istri sebagai kejutan. Lalu keduanya akan pergi menuju Bank sembari berboncengan mesra untuk mendaftar sebagai peserta jama’ah haji tahun itu. 

Diambillah sebilah parang untuk membelah celengan bambu menjadi dua. Tetapi, saat celengan itu terbelah secara sempurna, mata abah melotot tidak berkedip. Keningnya berkerut, telinganya memerah, sekujur badannya merinding, perasaannya bergemuruh tidak karuan. 

Penyebabnya, semua uang di celengan bambu itu dimakan rayap. Anehnya, dari setiap lembar uang, yang dikonsumsi rayap cuma separuh bagian, tak semuanya. 

Terlepas mengumpulkan sisa tenaga, Abah juga mendatangi istrinya dengan langkah gontai. Ia mengumpulkan seluruh keluarganya, lalu menyampaikan apa yang sudah dilakukannya selama bertahun-tahun itu. 

Qadarullah, sampai akhir hayat, Abah belum pernah menunaikan Ibadah Haji.

0 komentar:

Posting Komentar