Zona Berita Unik Dunia

Rabu, 12 April 2017

Miris! Kisah Haru Gubuk Derita Kakek dan 3 Cucu di Gorontalo Ini Membuat Hati Bergetar

loading...

Mempunyai rumah yang nyaman merupakan satu diantara keperluan paling penting untuk setiap keluarga. Tetapi apa yang terjadi bila keadaan tempat tinggal tak layak huni akibat kemiskinan. Derita ini dihadapi Abdurrahman Tanu (68), warga Kelurahan Polohungo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. 

Diatas satu bukit sebelah aliran Sungai Bionga, Dusun Batumerah, Kelurahan Polohungo, tampak satu rumah sederhana yang sudah rusak parah. Nampaknya rumah berdinding gedek atau bilah bambu itu tidak berpenghuni lagi. 

Tetapi, waktu Liputan6.com coba mendekat dengan menyeberangi sungai, seorang kakek tampak tengah bermain bersama tiga cucunya di depan rumah itu. 

Ternyata, keluarga yang tengah menikmati sebuah kentos kelapa itu adalah penghuni rumah kumuh itu. Selain tiga cucunya itu, ada dua lagi penghuni yang lain yang disebut keponakan dari kakek Abdurrahman. 

" Mari Pak, duduk disini saja, didalam ta acak (semrawut) sekali, " ucap kakek yang akrab disapa Pasisa No'e itu, waktu mempersilakan Liputan6.com duduk di rerumputan depan rumahnya, beberapa hari lalu. 

Keadaan didalam rumah, ternyata lebih memprihatinkan lagi. Tidak cuma bagian atapnya, keadaan dinding-dinding rumah juga telah banyak lubangnya. Dilihat dari luasnya juga tak memungkinkan untuk dapat menyimpan enam orang yang merupakan penghuni rumah kumuh ini. 

Kakek dua anak ini menyampaikan, keadaan tempat tinggalnya yang rusak itu telah berjalan lebih dari 10 tahun lamanya. " Bila turun hujan tentu basah didalam pak, maka dari itu kami saat ini sangat terpaksa harus bermalam dirumah orang. " 

Untuk melakukan perbaikan rumah itu, Pasisa No'e mengakui tak miliki cukup biaya. Sebab, pendapatan mereka hanya cukup untuk keperluan sehari-hari, seperti makan ataupun uang jajan ketiga cucunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu. 

Beruntung, di daerah itu ada Farida Yunus (40), yang bersedia membuka pintu rumahnya untuk ditempati oleh keluarga Pasisa No'e. 

Janda dua anak ini menyampaikan, ia begitu iba melihat keadaan rumah Pa Sisa No'e sekarang ini. " Mereka tak punya lagi rumah. Saya tak tega lihat mereka, apalagi cucu-cucunya masih kecil. " 

" Jadi, apa salahnya saya kasih tinggal dorang (mereka) dirumah, " kata Farida sambil meneteskan air mata, memikirkan keadaan keluarga Pa Sisa No'e. 

Sampai saat ini, Pasisa No'e serta keluarganya itu cuma dapat bermalam dirumah Farida saat akan beristirahat malam. Mereka belum dapat memperbaiki gubuk itu karena kemiskinan. 

" Bila pagi-pagi saya dengan kemenakan bekerja di kebun, cucu-cucu di sekolah. Habis itu, somo ba kumpul bebrapa rame (sama-sama berkumpul ramai-ramai) di muka rumah hingga menjelang malam, " tutur Pasisa No'e waktu menceritakan kesehariannya.

Jika menurut kamu artikel ini baik, silahkan menyebar luaskan agar sampai kepada sang penguasa negeri.

0 komentar:

Posting Komentar